Skip to content

Mutus liber : Buku yang tidak berbicara

Ditulis oleh Aziz Muhadzdzab Riyadi

Menemukan Kebebasan Berpikir Lewat Buku di Tengah Pandemi

Tahun 2020 adalah waktu ketika keadaan dunia berada dalam situasi yang sangat mencekam. Kehadiran sebuah benda tak kasat mata namun mematikan—virus yang berasal dari negeri Tirai Bambu—menggemparkan seluruh dunia. COVID-19, demikian namanya, menciptakan sebuah pandemi global. Kepanikan terjadi di mana-mana. Lockdown menjadi salah satu upaya pencegahan penyebaran virus tersebut.

Jalanan mendadak kosong. Sekolah, stasiun, pasar yang biasanya ramai, pada saat itu tak terlihat satu manusia pun. Semua orang berdiam diri di dalam rumah, menunggu takdir berbicara.
“Apakah ini akan terjadi selamanya?”
“Apakah saya akan mati saat ini?”
Bayang-bayang ketakutan terus menghantui pikiran banyak orang pada masa itu.

Saya adalah seorang siswa kelas 10 yang ikut terdampak oleh situasi ini. Sekolah diliburkan selama kurang lebih lima bulan, dan pembelajaran dilakukan secara daring. Kebosanan mulai menggelayuti pikiran saya. Tidak ada banyak pilihan selain membaca. Pada masa itu, saya membaca berbagai jenis buku: filsafat, sejarah, agama, teologi, hingga astronomi. Apa pun buku yang ada di depan mata, saya baca untuk mengisi waktu luang yang terasa begitu panjang.

Suatu hari, seorang teman memberikan saya sebuah buku. Kesan pertama saya terhadap buku tersebut justru adalah rasa tidak nyaman. Sampulnya dipenuhi berbagai simbol yang menurut saya terlihat “berbahaya”: simbol salib, salib dengan garis di bawahnya, pentagram, dan simbol-simbol lainnya. Namun, anehnya, semakin berbahaya sebuah buku terlihat, semakin besar pula ketertarikan saya untuk membacanya. Judul buku tersebut adalah The Secret History of the World karya Jonathan Black (nama pena).

Tanpa berpikir panjang, saya langsung membuka bab pertama yang berjudul “Awal Mula”. Buku ini awalnya diterbitkan dalam bahasa Inggris, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan disebarluaskan. Saat pertama kali membacanya, perhatian saya tertuju pada sebuah ilustrasi yang belum pernah saya lihat sebelumnya: sesosok perempuan yang mengangkat bola dunia dengan latar belakang bangunan tua, menyerupai lukisan dari zaman Yunani Kuno. Alih-alih merasa takut, saya justru diliputi rasa penasaran.

Dalam kurun waktu satu bulan, buku ini berhasil saya selesaikan. Di bagian akhir buku terdapat daftar pustaka yang memuat cukup banyak referensi yang digunakan penulis. Tak heran jika pada sampul buku tertulis, “Bagaikan satu perpustakaan dalam sebuah buku.” Dari daftar pustaka tersebut, perhatian saya tertuju pada satu judul: Mutus Liber.

Mutus Liber adalah sebuah buku tipis—sekitar dua puluh halaman—yang hanya berisi gambar-gambar tanpa teks. Meski demikian, buku ini bukan sekadar kumpulan ilustrasi biasa. Ia sarat akan makna simbolik dan membiarkan pembacanya menafsirkan sendiri pesan yang terkandung di dalamnya. Meskipun banyak membahas tentang alkimia, saya meyakini bahwa buku ini tidak hanya berbicara tentang alkimia semata, melainkan tentang kehidupan itu sendiri.

Salah satu gambar dalam Mutus Liber menggambarkan seseorang yang sedang menaiki tangga ke atas, dikelilingi dedaunan melingkar. Di puncak tangga terdapat buah apel, sementara di bagian bawah tampak apel yang pecah. Tangga tersebut dapat dimaknai sebagai jalan menuju kebebasan—khususnya kebebasan berpikir. Sosok yang menaiki tangga melambangkan manusia yang berusaha mencapai kebebasan tersebut. Apel di puncak tangga merepresentasikan buah kebebasan yang diraih dengan susah payah, sedangkan apel pecah di bawahnya menggambarkan kehancuran ego yang harus ditinggalkan untuk mencapainya.

Di bagian tengah gambar terdapat tulisan dalam bahasa Latin: “in quo tamen totus philosophicus labor, aqua et igne, perficitur.” Jika diterjemahkan, kalimat tersebut berarti, “di mana seluruh kerja filsuf (alkimia) diselesaikan melalui air dan api.” Maknanya, pemurnian emosi dan pembakaran ego menjadi syarat untuk mencapai kebebasan sejati.

Buku ini mengubah cara pandang hidup saya. Ia membuka gerbang menuju kebebasan berpikir dan memicu hasrat untuk terus membaca tanpa merasa cepat puas. Menyelesaikan satu buku besar bukanlah akhir, melainkan awal dari pencarian berikutnya. Buku bisu ini membuktikan bahwa sesuatu tidak perlu berbicara dengan kata-kata untuk menyampaikan makna. Simbol-simbolnya justru membangkitkan gairah berpikir yang dalam dan pencarian tanpa henti.

Jika sebuah buku mampu memberi dampak sebesar ini pada diri saya, lalu apa salahnya jika orang lain ikut membacanya? Barangkali, melalui buku yang sama, kebebasan berpikir itu juga dapat terbangkitkan.

Editor: Tim Ngajiliterasi