Menjelajah Dunia Lewat Ransel dan Halaman Buku
Oleh Upik Thamrin
“Buku adalah jendela dunia.” Slogan ini sudah begitu akrab di telinga kita. Maknanya sederhana namun dalam: melalui buku, pembaca dapat mengenal banyak hal, memperoleh pengetahuan, dan memperluas wawasan. Salah satu hal paling menarik dari membaca adalah ketika kita diajak menjelajahi dunia baru—dunia yang mungkin sulit dijangkau secara fisik, tetapi dapat kita rasakan dan alami lewat kata-kata. Atas alasan itulah saya memilih buku Backpackers sebagai bacaan yang meninggalkan kesan mendalam dan memberi pengaruh bagi diri saya.
Melakukan perjalanan atau traveling merupakan aktivitas yang menyenangkan. Ada begitu banyak hal yang bisa dirasakan, dialami, dan dipelajari. Alasan orang melakukan perjalanan pun beragam: mengeksplorasi kebudayaan dan kebiasaan masyarakat, mencari sensasi petualangan baru, mencicipi kuliner lokal, menikmati alam bebas, hingga bergaul tanpa sekat. Namun, traveling tentu membutuhkan persiapan yang matang, mulai dari tiket transportasi, akomodasi, makanan, penentuan destinasi, hingga pengelolaan keuangan.
Bagi wisatawan dengan dana berlimpah, menginap di hotel berbintang atau menggunakan jasa biro perjalanan bukanlah persoalan. Namun, bagi mereka yang memiliki keterbatasan anggaran, menjadi backpacker adalah pilihan yang paling memungkinkan.
Istilah backpacker merujuk pada pelancong yang membawa tas ransel sebagai bekal utama, melakukan perjalanan dengan biaya hemat, serta berfokus pada pengalaman budaya dan interaksi dengan masyarakat lokal. Menjadi backpacker tidak dibatasi usia, meskipun umumnya dilakukan oleh orang dewasa yang dianggap telah memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri. Beragam kisah backpacker dapat ditemukan di blog, situs web, video YouTube, Instagram, maupun media sosial lainnya. Namun, informasi yang lebih sistematis, runtut, dan mudah dipahami dapat dijumpai dalam buku Backpackers.
Hal yang paling menarik dari buku ini adalah kumpulan kisah perjalanan dari 31 penulis saat mereka menjadi backpacker. Setiap pengalaman memiliki keunikan tersendiri dan menyimpan banyak pelajaran. Keragaman tempat dan masyarakat yang dikunjungi turut memperkaya wawasan pembaca mengenai dunia backpacking. Beberapa kota memang dikunjungi oleh lebih dari satu penulis, seperti Yogyakarta. Hal ini wajar karena Yogyakarta dikenal sebagai destinasi wisata yang khas, terjangkau, dan kaya akan seni budaya—mulai dari upacara adat, kerajinan, tempat wisata, hingga keindahan alamnya.
Buku ini juga memberikan gambaran mengenai kondisi sosial suatu daerah, sehingga calon backpacker dapat mempersiapkan mental untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat. Setiap kisah disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, meskipun sesekali diselipi kalimat puitis. Kejujuran dan penggambaran apa adanya membuat pembaca—termasuk saya—seolah ikut hadir di tempat-tempat yang diceritakan.
Salah satu kisah yang paling membekas bagi saya berjudul “Mama Sa’idah dari Fez.” Cerita ini mengisahkan pertemuan Fatimah dengan Ibu Sa’idah di Maroko. Pertemuan awal mereka terasa canggung karena kendala bahasa: Ibu Sa’idah kurang memahami bahasa Inggris, sementara Fatimah tidak bisa berbahasa Prancis. Suasana mulai mencair ketika mereka bercakap menggunakan bahasa Arab, meski tidak terlalu fasih. Pertemuan itu diakhiri dengan undangan menginap di rumah Ibu Sa’idah.
Awalnya, Fatimah tidak menanggapi undangan tersebut secara serius karena tak ingin merepotkan. Namun beberapa hari kemudian, ia menghubungi Ibu Sa’idah dan menyampaikan niatnya untuk menginap. Ibu Sa’idah menyambutnya dengan penuh kebahagiaan. Fatimah pun berangkat menuju Fez dan dijemput langsung oleh Ibu Sa’idah bersama ketiga anaknya.
Selama menginap, Fatimah diperlakukan layaknya anak sendiri. Ia tidak diizinkan mencuci bajunya sendiri, makan bersama keluarga, dan diajak berkeliling kota Fez oleh Maryem, salah satu anak Ibu Sa’idah. Mereka mengunjungi masjid tertua, universitas tertua, hingga berbelanja di pasar tradisional. Kisah ini mencapai puncak haru ketika Fatimah memijat kaki Mama Sa’idah yang sedang sakit. Setelah dua hari menginap, Fatimah berpamitan. Perpisahan itu ditutup dengan pelukan hangat dan hadiah berupa gamis, disertai pesan agar Fatimah mengenakannya saat rindu. Sebuah kisah yang sungguh menyentuh hati.
Selain kisah haru, buku ini juga memuat pengalaman horor, seperti cerita seorang penulis yang harus menginap di dalam bus mogok di kawasan Cadas Pangeran, di pinggir hutan. Dalam gelap malam, suasana terasa mencekam, bahkan perubahan ekspresi para penumpang tampak menakutkan. Ada pula kisah perjalanan sebagai bikepacker—melakukan perjalanan jauh dengan sepeda—yang menuntut ketahanan fisik dan mental luar biasa.
Tak semua perjalanan berjalan sesuai ekspektasi. Ada pengalaman yang menyedihkan, menyebalkan, hingga mengharukan. Namun satu benang merah yang kerap muncul adalah bahwa menjadi backpacker mengajarkan rasa syukur, memperkenalkan beragam karakter manusia, serta menempa ketahanan mental dan spiritual.
Buku ini menginspirasi saya untuk melakukan perjalanan backpacking ke Malaysia dan Singapura. Saya menggunakan pesawat berbiaya rendah, menginap di hostel bersama backpacker lain yang belum saya kenal, berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum, serta makan di warung pinggir jalan. Apakah saya terkejut? Ya, karena banyak kejadian menarik terjadi selama perjalanan. Apakah saya kapok? Tentu tidak. Menjadi backpacker membuat hidup saya terasa lebih menantang dan bermakna.
Mari derapkan langkahmu. Jadilah backpacker, dan lihatlah dunia dengan cara yang berbeda.
Editor: Tim Ngajiliterasi