Skip to content

Berhenti atau Bertempur Lagi?

Mencintai Proses, Merawat Prasangka Baik

Oleh: Umi Hani

Berburuk sangka adalah salah satu hal yang sulit dihindari. Entah dengan alasan waspada atau sekadar menduga, arahnya tetap sama. Sebagai manusia, kita memiliki insting untuk berhati-hati terhadap sesuatu yang tidak pasti. Namun, apakah berburuk sangka pada kehendak Tuhan juga diperlukan?

Kegagalan demi kegagalan terus datang. Terlalu sering gagal hingga saya memutuskan beristirahat sejenak dari usaha-usaha yang, kata orang, harus terus dilakukan. Awalnya hanya ingin menyembuhkan luka sebelum kembali bertempur. Akan tetapi, dalam keterdiaman, pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala.

Sebenarnya, apa yang Tuhan inginkan? Bukankah saya sudah berusaha? Saya juga aktif berdoa. Lantas, mengapa hasilnya masih tak sesuai harapan?

Ini bukan pertanyaan yang diucapkan dengan lidah, melainkan yang berputar-putar di dalam pikiran dan hati. Keraguan terhadap diri sendiri, terhadap Tuhan, bahkan terhadap kehidupan, terus berkembang. Setiap hari saya mencoba mencari jawaban—melalui bacaan maupun perenungan.

Ada satu aplikasi favorit di ponsel saya bernama Memo, ruang terbuka bagi pikiran dan perasaan. Di sana saya mencatat daftar buku yang ingin dibeli. Belasan hingga puluhan judul mentereng tersimpan rapi, tetapi tak satu pun terbeli karena alasan finansial.

Suatu hari sejumlah uang receh sampai ke tangan saya. Mengingat banyaknya buku impian, saya harus memilih satu. Hingga akhirnya, buku karya A. Helwa menjadi pilihan. Saya membelinya secara online dengan harga di atas seratus ribu rupiah.

Setelah beberapa hari menunggu, buku pun tiba. Sayangnya, terjadi kesalahan teknis—buku yang dikirim berbahasa Inggris. Saya bisa memahami sebagian, tetapi banyak kosakata baru yang membuat saya harus bolak-balik membuka kamus. Meski begitu, makna tulisannya tetap terasa hangat dan manis di setiap kalimat.

Buku itu berjudul Secrets of Divine Love: A Spiritual Journey into the Heart of Islam.

Awalnya saya mengira A. Helwa hanya akan memaparkan pemikiran dan pengalamannya mengenai Islam. Ternyata lebih dari itu. Buku ini menarik saya masuk ke dalam pusaran refleksi sejak halaman pertama.

Penulis memilih pendekatan cinta sebagai ruh tulisannya. Saya dibawa pada kalimat-kalimat puitis dan paragraf melankolis yang memaksa diri untuk merenung. Karena cinta adalah sesuatu yang selalu saya kagumi, buku ini terasa begitu dekat dengan hati.

Saat merefleksikan isi buku tersebut, saya menyadari bahwa hubungan dengan Tuhan tidak sesederhana berusaha lalu langsung memperoleh hasil luar biasa. Tuhan menciptakan alam semesta dengan cinta, maka perjalanan manusia di dunia pun adalah perjalanan cinta—mencintai proses, mencintai langkah-langkah kecil, mencintai orang-orang yang datang dan pergi, yang menyenangkan maupun yang menyakitkan.

Saya mulai memahami bahwa kegagalan sering kali lahir dari keraguan terhadap proses yang seharusnya dicintai. Saya tidak benar-benar mencintai apa yang saya jalani; justru ingin berhenti di tengah jalan. Padahal, perjalanan ini belum berakhir.

“Do not place a period where God has placed a comma, because God’s plan stretches beyond your moments of doubt and fear.” — Secrets of Divine Love

Kalimat itu terasa begitu dalam dan menyentuh. Saya menyadari bahwa di sekitar saya ada teman-teman yang selalu mendukung, memberikan nasihat, hiburan, dan cinta yang tulus. Mungkin merekalah bentuk kasih sayang yang Tuhan kirimkan agar saya tetap kuat melangkah.

Ketika cinta menjadi dasar dalam menjalani hidup, kegagalan pun terasa lebih ringan. Kita tahu bahwa di depan sana masih ada proses indah yang menunggu. Buku ini mengajak saya melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih lembut—menghidupkan kembali semangat yang sempat padam dan mengarahkan jiwa yang lelah untuk kembali berdiri.

Kini saya masih terus belajar menjalani hidup dengan tenang: mengendalikan apa yang bisa dikendalikan dan fokus pada proses. Menanamkan prasangka baik, meski kegagalan kadang masih berada di depan mata.

Membaca buku adalah petualangan singkat yang bermakna. Ada jejak-jejak tak kasat mata yang menguatkan perjalanan hidup pembacanya. Karena itu, membaca menjadi salah satu cara paling ampuh untuk menemukan jawaban di tengah kebingungan yang kerap menyesatkan.

Editor: Tim Ngajiliterasi