Skip to content

Bukan sekadar buku, tapi titik balik dalam hidupku

Oleh: Salsa Bila

Saya masih mengingat hari itu dengan cukup jelas. Sore yang biasa saja—tanpa angin yang terasa, tanpa langit yang benar-benar mendung. Namun kepala saya dipenuhi kejenuhan, dan hati terasa kosong tanpa alasan yang pasti. Usia saya saat itu tujuh belas tahun, masa ketika hidup seharusnya bergerak penuh semangat, tetapi justru saya merasa tertinggal jauh. Saya duduk diam di kamar, menatap layar ponsel yang hanya menghadirkan kebisingan tanpa makna. Hingga pandangan saya berhenti pada sebuah buku berdebu di rak: Man’s Search for Meaning karya Viktor Frankl.

Buku itu sebenarnya milik kakak saya yang sedang kuliah di luar kota. Selama ini saya selalu melewatinya, mengira isinya terlalu berat dan akademis—tidak cocok untuk seseorang yang bahkan kehilangan semangat hidup. Namun sore itu, entah mengapa, saya membukanya. “Hanya satu halaman,” pikir saya. Sekadar ingin tahu.

Satu halaman berubah menjadi dua, lalu tiga, hingga puluhan halaman berikutnya. Saya tenggelam dalam kisah Viktor Frankl, seorang psikiater Yahudi yang menjadi penyintas kamp konsentrasi Nazi. Penderitaan yang ia alami terasa jauh dari kehidupan saya, tetapi justru pandangan hidupnya yang membuat saya terpaku. Di tengah kondisi yang nyaris merenggut kemanusiaan, Frankl tetap menemukan makna hidup.

Ada satu kalimat yang terus melekat hingga hari ini: bahwa segala sesuatu dapat direnggut dari manusia kecuali satu hal—kebebasan untuk memilih sikap terhadap apa pun yang terjadi padanya. Saya terdiam lama setelah membacanya. Kalimat itu terasa seperti teguran lembut yang membongkar cara pandang saya selama ini.

Saya menyadari betapa seringnya saya menyalahkan keadaan—merasa gagal, tertinggal, dan kehilangan arah—tanpa menyadari bahwa saya masih memiliki pilihan untuk bersikap. Saya bisa memilih menyerah atau bangkit, mengeluh atau menerima. Kesadaran itu datang perlahan, tetapi meninggalkan jejak yang dalam.

Sejak saat itu, perubahan kecil mulai terjadi. Saya mulai menulis jurnal, sesuatu yang sebelumnya saya anggap sepele. Saya belajar mengenali emosi, membuka diri pada perasaan sendiri, dan berlatih jujur terhadap diri sendiri. Tidak semua hari menjadi mudah, tetapi saya tidak lagi merasa sepenuhnya menjadi korban keadaan. Saya mulai merasakan bahwa hidup saya tetap berada dalam kendali—meski hanya selangkah demi selangkah.

Buku itu tidak tebal, tidak bersampul mencolok, dan tidak sedang viral seperti banyak bacaan lain. Namun bagi saya, ia seperti obor kecil di tengah gelap. Ia hadir diam-diam ketika saya bahkan tidak tahu harus berbicara kepada siapa. Lebih dari sekadar buku motivasi, ia menjadi teman sunyi yang menemani proses saya memahami hidup.

Membaca buku itu tidak serta-merta menjadikan saya pribadi yang sempurna. Saya masih lelah, masih kadang kehilangan arah. Bedanya, kini saya tahu bahwa saya memiliki pilihan untuk tidak tenggelam dalam perasaan tersebut. Saya mulai memahami bahwa hidup bukan tentang menghindari penderitaan, melainkan tentang memberi makna pada setiap pengalaman yang kita jalani.

Bagi sebagian orang, mungkin buku itu hanyalah bacaan lama di rak. Namun bagi saya, ia adalah titik balik—tempat saya belajar tentang harapan, keteguhan, dan keberanian memilih jalan pulang ketika hidup terasa asing. Hingga hari ini, setiap kali saya merasa jatuh, saya tahu saya bisa kembali membuka halaman-halamannya. Bukan untuk mencari jawaban pasti, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa saya selalu memiliki pilihan: menyalakan kembali cahaya kecil itu, bahkan di tengah gelap yang paling pekat.

Editor: Tim Ngajiliterasi