Skip to content

Hidupku Terbelah Dua: Sebelum dan Setelah Membaca Buku Ini

Namaku Hari. Aku adalah seorang prajurit aktif di TNI Angkatan Laut, lulusan SMA IPA yang sejak lama terbiasa berpikir logis dan bertindak cepat. Hidupku selama ini mengikuti kompas yang jelas: disiplin, kehormatan, dan tanggung jawab. Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang tak pernah benar-benar kupahami—ketenangan batin.

Sebagai prajurit TNI AL, aku pernah menjalani misi di tengah laut selama berminggu-minggu, jauh dari daratan, sinyal, dan keluarga. Ada satu malam ketika kapal kami berlayar sunyi di Samudra Hindia. Langit bertabur bintang, laut tampak seperti cermin. Namun alih-alih merasa tenang, aku justru diliputi kekosongan. Aku mulai bertanya pada diri sendiri:
“Aku kuat, tapi mengapa sering merasa hampa?”
“Aku patuh pada sistem, tapi mengapa pikiranku begitu berisik?”

Pertanyaan-pertanyaan itu menempel seperti duri. Di dunia kami, membicarakan kegelisahan batin kerap dianggap sebagai kelemahan. Bangun tidur terasa seperti mengulang hari yang sama: cemas, gagal, kehilangan arah. Seperti menonton film yang sama berulang kali, tetapi berharap akhir ceritanya berubah. Aku kehilangan kompas. Hidupku terasa seperti peta tanpa tujuan.

Hingga suatu sore yang tampak biasa saja. Sepulang dinas, aku mampir ke Gramedia. Awalnya hanya ingin mencari kado, tetapi tanpa sengaja mataku tertumbuk pada sebuah buku bersampul sederhana berjudul Filosofi Teras. Buku tentang Stoisisme, demikian tertulis di sampul belakangnya. Aku hampir melewatinya. Namun entah mengapa, ada sesuatu yang menahan langkahku.

Di bagian belakang sampul, satu kalimat membuatku terdiam: “Kita tidak bisa mengontrol apa yang terjadi pada kita, tapi kita bisa mengontrol bagaimana kita bereaksi.” Kalimat itu terasa seperti tamparan. Aku yang selama ini berusaha mengendalikan segalanya mendadak disadarkan. Hari itu juga aku membeli buku tersebut. Bukan karena ingin membaca, melainkan karena aku merasa buku ini yang menemukan diriku.

Membaca Filosofi Teras seperti ditampar dengan kasih sayang. Aku diperkenalkan pada para filsuf Stoa—Epictetus, Marcus Aurelius, dan Seneca—yang mengajarkan bahwa hidup memang penuh masalah. Kebahagiaan bukanlah hasil dari hidup tanpa masalah, melainkan dari cara kita meresponsnya.

Perubahanku tidak terjadi dalam semalam. Namun perlahan aku mulai melatih pikiranku. Aku menulis jurnal pagi, menandai halaman-halaman yang membuatku merenung lama. Setiap kalimat terasa seperti percikan cahaya di tengah gelap. Dulu aku mudah reaktif—tersinggung saat disentuh sedikit, cemas saat gagal, iri ketika tertinggal. Kini, aku belajar memberi jeda sebelum bereaksi. Dan jeda itu adalah kekuatan.

Titik balik hidupku datang dari luka terdalam.

Pada tahun 2010, ibuku meninggal dunia akibat kanker payudara saat aku sedang bertugas. Beliau merahasiakan penyakitnya dariku. Ketika aku pulang cuti sebelumnya, ia hanya mengatakan ada benjolan kecil di ketiaknya. Aku sempat menawarkan pengobatan, tetapi ia menolak karena tak ingin membebani keuangan anaknya. Sebelum kembali bertugas, aku menatap ibuku dan hati kecilku berkata, “Ini mungkin salam terakhir.” Namun aku mengabaikan perasaan itu.

Ketika kabar duka datang, aku panik. Namun aku tidak bisa langsung pulang. Dinas tidak mengizinkan cuti darurat. Beruntung, ada seorang senior yang baik hati membantuku dengan ongkos perjalanan. Aku menempuh perjalanan panjang dari tengah laut di Ambalat menuju Nunukan, lalu ke Tarakan, Bandara Juwata, hingga Yogyakarta. Sepanjang perjalanan aku menangis diam-diam.

Aku tiba di Terminal Giwangan tengah malam. Tidak ada bus. Aku tidur di sana sambil menunggu pagi. Paginya, pamanku menelepon dan berkata, “Maaf, Nak. Mama harus segera dimakamkan. Sudah tidak kuat menunggu.” Aku tiba di rumah saat pusara ibuku sudah basah diguyur gerimis. Aku bersimpuh dan membaca Ayat Kursi di atas pusaranya. Saat itu hujan tiba-tiba turun deras, lalu reda, lalu deras kembali—seolah alam menjawab tangisku.

Aku menyalahkan diri sendiri. Mengapa aku tidak ada di sisinya? Mengapa aku begitu patuh pada sistem, tetapi lupa pada rasa? Di tengah guncangan batin itu, aku membuka buku kecil yang selalu kubawa—Filosofi Teras. Pada salah satu halamannya, aku menemukan kalimat ini: “Jangan menderita dua kali—oleh kenyataan, dan oleh pikiranmu sendiri.” Saat itulah aku sadar, aku harus berhenti menyiksa diriku sendiri.

Kini, aku tidak lagi reaktif. Aku belajar diam sebelum bicara, belajar menertawakan hal-hal kecil yang dulu kubesar-besarkan. Aku tetap disiplin sebagai prajurit TNI, tetapi juga belajar menjadi manusia yang reflektif. Aku menulis jurnal seperti Marcus Aurelius, belajar memaafkan tanpa menunggu permintaan maaf, dan menerima hidup apa adanya. Tidak semua harus sempurna untuk bisa merasa damai.

Aku tahu tidak semua orang menyukai filsafat. Namun jika kamu hidup di dunia nyata yang keras, seperti aku, mungkin kamu membutuhkan satu buku yang bisa menjadi kompas batin. Buku yang tidak memberi semua jawaban, tetapi menawarkan sudut pandang baru dalam menyikapi dunia.

Filosofi Teras bukan sekadar bacaan. Ia adalah cermin. Ia tidak membuat hidupku bebas dari badai, tetapi mengajarkanku cara berteduh. Ia tidak menghilangkan kesedihan, tetapi membantuku untuk tidak dikalahkan olehnya. Jika kamu sedang merasa hilang, mungkin jawabannya bukan di luar sana, melainkan di halaman-halaman buku yang belum kamu buka. Bagiku, hidup benar-benar terbagi dua: sebelum dan sesudah membaca buku ini.

Wahyu Hari Prayudo
Diedit oleh Tim Ngajiliterasi