Jurus Goblok Usaha Nomplok
Oleh: Agus Setiawan
Kata “goblok” dalam konteks ini menurut saya bukan berarti kebodohan secara literal. Ia justru merupakan filosofi yang mengajarkan pembacanya untuk berani keluar dari zona nyaman, tidak sekadar berteori, serta berani mengambil langkah nyata untuk memulai usaha. Secara pragmatis, kata goblok dimaksudkan sebagai ajakan agar pembaca tidak takut gagal, dan mau terus belajar dari setiap proses usaha yang dijalani.
Pemahaman ini saya peroleh dari buku berjudul Belajar Goblok dari Bob Sadino: Tanpa Tujuan, Tanpa Rencana, Tanpa Harapan karya Dodi Mawardi. Penulis buku tersebut dikenal sebagai konsultan dan pengajar penulisan di sebuah pusat kursus menulis buku, serta dosen di FISIP Universitas Indonesia dan STIKOM InterStudi.
Dari buku inilah saya mencoba mengimplementasikan gagasan-gagasan Bob Sadino ke dalam sebuah artikel yang saya beri judul “Jurus Goblok Usaha Nomplok”. Sebagai lulusan S2 Pendidikan Bahasa Inggris dari sebuah universitas swasta di Jakarta, rasanya cukup aneh jika saya harus terjun langsung ke dunia usaha. Bahkan, untuk menjadi seorang wirausaha sosial pun dulu bukanlah cita-cita saya sejak kecil.
Sebelumnya, saya berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di sebuah SMP swasta di Bogor, dan sempat menjabat sebagai Kepala Sekolah Dasar Islam Terpadu. Karier yang mulia sebagai pendidik tersebut rela saya lepaskan dengan ikhlas. Saat itu, muncul rasa greget untuk terjun langsung ke masyarakat: mencetak wirausaha-wirausaha sukses dengan jurus goblok, namun hasilnya tetap nomplok.
Langkah ini saya ambil karena keprihatinan terhadap generasi muda saat ini yang relatif sedikit memiliki minat menjadi pengusaha. Faktanya, banyak generasi muda yang berpendidikan tinggi, bahkan lulusan sarjana, tetapi bermental karyawan dan enggan memulai usaha sendiri. Di sisi lain, mereka aktif mengikuti berbagai pelatihan kewirausahaan dan motivasi kesuksesan yang diselenggarakan oleh lembaga, motivator, maupun praktisi usaha. Sayangnya, kisah-kisah inspiratif yang dibagikan tidak selalu mudah diterapkan dalam kehidupan nyata.
Kondisi inilah yang mendorong saya untuk terus mencari solusi: bagaimana menjadi pengusaha yang sukses dengan cara yang sederhana, praktis, dan tidak ribet.
Setelah menelaah buku tersebut, saya merasa gagasan Bob Sadino sangat menarik untuk dipraktikkan dalam realitas masyarakat. Buku ini menjelaskan bahwa untuk menjadi pengusaha sukses, seseorang tidak harus bergelar sarjana atau memiliki modal besar. Jika disimpulkan, menjadi pengusaha sebenarnya tidak sesulit yang sering dibayangkan.
Menurut Bob Sadino, kunci utama kesuksesan usaha terletak pada aksi nyata dan kesediaan belajar dari setiap proses pengalaman. Bahkan, ia menyampaikan pandangan yang cukup mengejutkan: pendidikan formal justru bisa menjadi penghambat terbesar seseorang untuk terjun ke dunia usaha, karena sering kali hanya mengajarkan teori yang sudah tidak relevan dengan realitas lapangan. Dalam praktiknya, pandangan ini kerap terbukti, mengingat banyak lulusan sarjana yang merasa gengsi memulai usaha kecil dan lebih memilih pekerjaan nyaman di kantor ber-AC dengan gaji tetap setiap bulan.
Dampak positif yang saya rasakan setelah membaca buku ini adalah munculnya keberanian untuk melangkah berbeda. Saya memilih turun langsung ke masyarakat dan menciptakan terobosan sederhana yang memiliki nilai ekonomi serta manfaat luas. Salah satu bidang yang saya kembangkan bersama masyarakat adalah usaha perikanan lele.
Berawal dari hanya enam kolam, kini usaha tersebut berkembang menjadi lebih dari 500 kolam ikan lele berbahan terpal bulat dengan sistem teknologi berkelanjutan. Masyarakat tidak hanya diajarkan budidaya, tetapi juga proses pembenihan, pembesaran, hingga pengolahan hasil lele. Semua dilakukan dengan pendekatan praktik langsung, tanpa teori dan manajemen yang rumit.
Hasilnya sangat terasa. Dengan modal pengetahuan yang minim dan proses belajar secara otodidak, masyarakat justru mampu mencapai keberhasilan yang signifikan. Jurus Goblok Usaha Nomplok terbukti bukan sekadar konsep, melainkan nyata memberikan hasil.
Keberhasilan tersebut tidak berhenti sampai di situ. Masyarakat mulai mengembangkan inovasi dan sistem budidaya yang bahkan belum diterapkan oleh pembudidaya lele di daerah lain. Inovasi ini menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu pusat perikanan lele di daerahnya. Banyak akademisi, masyarakat umum, hingga lembaga pemerintah yang datang untuk belajar.
Pemerintah daerah dan pusat, serta BUMN seperti PT PLN UID Banten melalui program PLN Peduli, turut mendukung dan mengembangkan wilayah tersebut menjadi Desa Berdaya Ikan Lele. Desa ini kini memiliki lebih dari 50 anggota aktif dengan berbagai cabang usaha turunan. Bahkan, sebuah tugu monumen ikan lele setinggi enam meter didirikan sebagai simbol perjuangan dan keberhasilan masyarakat dalam membangun usaha bersama.
Dari pengalaman ini, saya semakin meyakini kebenaran pandangan Bob Sadino bahwa ada dua alasan utama mengapa lulusan sarjana sering kali ragu memulai usaha. Pertama, rasa takut yang muncul dari pikiran sendiri. Kedua, terlalu banyak pertimbangan hingga akhirnya tidak berani melangkah.
Melalui tulisan dan pengalaman ini, saya berharap dapat membantu mengubah pola pikir generasi muda agar lebih berani memulai usaha dan percaya pada proses. Semoga pengalaman sederhana ini bisa menjadi contoh bahwa memulai usaha tidak harus sempurna—yang terpenting adalah berani melangkah dan tidak takut gagal.
Editor: Tim Ngajiliterasi