Skip to content

Seni Bahagia yang Menyelamatkan Hidupku: Sebuah Artikel tentang Welas Asih

Oleh: Damar Abhinawa

Sebenarnya, hidup untuk apa?

Pertanyaan itu seperti hantu yang terus membayangi saya di usia 25 tahun. Usia yang seharusnya penuh gairah dan harapan, namun bagi saya justru terasa seperti berjalan di koridor panjang tak berujung, dengan dinding-dinding cermin retak yang hanya memantulkan kekosongan. Untuk apa kita berjuang jika penderitaan selalu punya cara untuk datang, merenggut ketenangan, dan menelanjangi kita tanpa ampun?

Saya melihat dunia sebagai panggung ironi. Kita tidak bisa mengendalikan badai yang tiba-tiba datang, kehilangan yang merampas tanpa permisi, atau penilaian orang lain yang menghakimi. Lebih parah lagi, kita bahkan tidak memiliki kuasa penuh atas benteng terakhir kita: pikiran.

Jika pikiran begitu mudah diatur, tentu tak akan ada depresi, bipolar, kecemasan, atau jiwa-jiwa yang terperangkap dalam penjaranya sendiri.

Dan saya adalah salah satu tahanan itu.

Filsuf benar: manusia lebih sering tersiksa oleh pikirannya sendiri. Pikiran saya adalah monster yang saya ciptakan dan saya rawat setiap hari. Saya tersiksa oleh kekhawatiran akan rapat esok hari, membayangkannya gagal hingga perut mual berhari-hari—padahal rapatnya hanya satu jam dan berjalan lancar. Saya tersiksa oleh percakapan canggung dengan teman, memutarnya berkali-kali di kepala, meyakinkan diri bahwa hubungan itu hancur. Saya tersiksa oleh bayangan penyakit mematikan setiap kali tubuh sedikit pegal.

Hidup saya adalah rangkaian penderitaan atas tragedi yang tidak pernah terjadi.

Paradoksnya, saya sadar bahwa pikiran saya menyiksa saya—tetapi saya tak mampu menghentikannya. Dari situlah saya akhirnya mendapat predikat: depresi klinis, sejak 2022.

Logika saya yang retak berbisik, “Hidup ini hanya sengsara. Untuk apa dipertahankan? Kita selalu bisa memilih untuk berhenti.”

Puluhan sesi konseling saya jalani. Berbagai obat dari psikiater saya telan. Namun semuanya hanya terasa seperti plester kecil untuk luka peluru. Kekosongan itu tetap menganga, dan keyakinan bahwa hidup adalah keniscayaan penderitaan tak pernah benar-benar pergi.

Namun, ada satu hal yang saya miliki sejak kecil: kecintaan pada buku. Tanpa saya sadari, kebiasaan itu menjadi jaring pengaman terakhir yang menjaga saya dari tepi jurang. Dan di antara tumpukan buku, sebuah judul sederhana memanggil saya:

“The Art of Happiness” karya Dalai Lama dan Howard C. Cutler.

Buku itu memperkenalkan saya pada gagasan radikal:

bahagia bukan tujuan akhir, tetapi sebuah seni.

Sebuah keterampilan yang bisa dilatih seperti seorang musisi yang mengasah jemarinya di atas senar biola. Dan kuas utama untuk melukis kebahagiaan itu adalah welas asih—compassion.

Di sinilah hidup saya mulai berbelok.

Selama ini, saya terjebak pada penderitaan saya, kecemasan saya, kehampaan saya. Seluruh fokus hidup saya berpusat pada diri sendiri. Buku itu justru mengajak saya melakukan hal yang sama sekali tidak intuitif:

Untuk merasa bahagia, alihkan fokus dari dirimu. Rasakan apa yang orang lain rasakan.

Ini bukan teori kosong. Saya mempraktikkannya dalam hal-hal kecil.

Suatu sore, saat memesan kopi, saya melihat barista kewalahan melayani antrean panjang. Diri saya yang lama akan menggerutu dalam hati. Namun bisikan dari buku itu muncul:

“Coba rasakan apa yang dia rasakan.”

Saya melihat keringat di pelipisnya, tangannya yang bergerak cepat, senyum lelah yang dipaksakan. Jengkel saya hilang, digantikan empati.

Saat giliran saya tiba, saya tersenyum dan berkata, “Terima kasih banyak, ya. Semangat terus.”

Senyum lelahnya berubah menjadi senyum tulus. Dan entah bagaimana, hati saya ikut hangat.

Lain waktu, seorang teman menelepon sambil menangis karena masalah pekerjaan. Diri saya yang dulu akan panik, takut salah memberi nasihat. Tapi kali ini saya hanya mendengarkan—betul-betul mendengarkan—membiarkannya menangis, memberi ruang untuk ia merasa didengar.

Di akhir percakapan, ia berkata, “Aku jauh lebih ringan. Terima kasih sudah mendengarkan.”

Dan anehnya, saya pun merasa lebih ringan.

Pekan demi pekan, bulan demi bulan, praktik welas asih ini mengubah cara saya memandang hidup. Monster di kepala saya tidak hilang seketika, tetapi suaranya semakin lirih. Setiap kali ia mencoba berteriak tentang penderitaan saya, saya menanggapinya dengan menoleh ke dunia luar: pada kucing jalanan yang lapar, pada pengemudi ojek yang berteduh dari hujan, pada tawa anak-anak di taman.

Fokus yang bergeser dari “aku” menjadi “kita” adalah penawar paling ampuh bagi racun ego dan isolasi depresi.

Kesehatan mental saya membaik. Tidak karena mantra ajaib, melainkan karena buku itu memberi saya alat yang nyata. Sebuah buku bisa sekuat itu—ia bukan sekadar deretan kata, tetapi mentor yang sabar, teman yang tak menghakimi.

The Art of Happiness tidak menyembuhkan saya dalam semalam, tetapi ia memberi saya peta dan kompas.

Peta menuju kebahagiaan batin, dengan welas asih sebagai Bintang Utaranya.

Jika hari ini saya masih di sini, menulis dengan hati yang lebih ringan dan harapan yang mulai tumbuh kembali, itu karena sebuah buku mengajarkan saya hal sederhana namun kuat:

Cara terbaik untuk menyelamatkan diri sendiri adalah dengan mulai peduli pada keselamatan orang lain.

Maka, mari kita membaca.

Buka sebuah buku.

Biarkan ia berbisik lembut padamu.

Sebab di antara lembar-lembar itu, mungkin saja tersimpan seni yang bisa mengubah—bahkan menyelamatkan—hidupmu.

 

Editor: Tim Ngaji Literasi